Kamis, 08 April 2010

Mereka Juga Ingin Punya Masa Depan

jalanan.jpg (10569 bytes)


Kondisi Pelayanan

Pelayanan anak jalanan ternyata sangat unik. Tidak seperti pelayanan-pelayanan lainnya di dalam gereja yang sudah baku. Pelayanan anak jalanan merupakan suatu bentuk pelayanan yang unpredictable (tak dapat ditentukan secara pasti). Selain karena Tim Aksos kekurangan SDM dan masih mencari bentuk dan format yang tepat, anak-anak yang dilayani sangat beragam. Mulai dari usia, tingkat pendidikan, latar belakang dan juga masalah yang mereka hadapi. Masing-masing anak memerlukan penanganan yang khusus dan berbeda-beda.

Sebut saja Eko, 14 tahun, sudah beberapa tahun malang-melintang di jalan. Untuk bisa tetap makan, biasanya dia ngamen di lampu-lampu merah ataupun di kendaraan umum. Tampaknya tidak ada yang berbahaya dalam diri anak ini. Tapi, ternyata Eko sudah pernah beberapa kali menjadi korban perlakuan seksual orang dewasa selama menjalani kehidupannya. Akibatnya di tempat penampungan dia tidak dapat melepaskan diri dari kebiasaan ini, dan akhirnya temannya pun menjadi korban.

Atau Rahmat, asal Banten. Sebelum ke Jakarta dia sudah dibekali bermacam-macam ilmu hitam. Pernah berniat menurunkan ilmunya itu ke teman-temannya, sering ke kuburan sendirian pada waktu malam, merupakan kegiatan yang dikerjakannya selama berada di tempat penampungan Cileungsi. Masih banyak lagi kisah anak-anak malang yang dilayani Tim Aksos yang terlalu banyak untuk diceritakan di sini.

Mereka memang anak-anak yang malang, sementara anak-anak normal di belahan bumi ini menikmati hangatnya kasih sayang dan perhatian orang tua, anak-anak ini sudah harus merasakan kerasnya kehidupan di jalanan. Kehidupan yang keras di rumah, hidup bersama dengan ayah/ibu tiri yang tidak ramah, kemiskinan, merupakan salah-satu dari sekian banyak alasan kenapa akhirnya anak-anak itu lebih senang hidup luntang-lantung di jalanan. Sekolah dan kehidupan normal ditinggalkan untuk menikmati alam kebebasan yang tampaknya sangat menjanjikan. Tapi, nyatanya kehidupan di jalan jauh lebih keras dari yang mereka bayangkan sebelumnya. Untuk bisa diterima di komunitas jalanan, tidak jarang mereka harus diplonco terlebih dahulu. Dan sekadar untuk mempertahankan hidup, mereka melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat. Ngoyen (makan makanan sisa), nguping (melepas kaca spion mobil), ngebola (mencuri dengan cara oper-operan di atas kendaraan umum), ngaibon ( menghirup hawa lem yang bisa membuat mereka melupakan sejenak masalah mereka) adalah hal-hal yang lazim mereka lakukan. Saat ini jumlah anak jalanan yang ditampung di Cileungsi hanya tinggal 15, dari 30 orang anak yang mula-mula berhasil ditampung.

Dengan kondisi demikian Tim Aksos merasa sulit untuk menembus benteng yang mereka pasang untuk Injil, tanpa dukungan daya dan doa dari segenap jemaat. Kiranya tulisan ini mampu mengetuk hati nurani jemaat agar kita tidak lagi melihat mereka sebagai makhluk pengganggu yang menjijikkan di lampu-lampu merah (yang kemudian membuat kita deg-degan dan cepat-cepat menyiapkan duit receh). Tapi, marilah kita melihat mereka sebagai orang-orang yang patut kita jaring dan kasihi. Kalau Yesus saja mengasih kita, mengapa kita tak mau mengasihi mereka?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar